b e b a s . . . . . . . . . . .

Iklan

My World in the Blur Mode

Sudah setahun belakangan ini, duniaku berubah menjadi buram. Dulu apa yang ada didepan mata terlihat jelas, kini hanya sekedar melihat tulisan “Stasiun Sudirman” dalam jarak yang tidak terlalu jauh sudah tidak jelas, samar-samar. Lampu-lampu jalan, lampu-lampu kendaraan, dan lampu-lampu lain yang aku suka kini berpendar. Cahaya yang sama namun terlihat beda oleh mata. Seperti hidup yang sama, dalam makna yang berbeda.

Morph

Saat bayanganmu mulai mencandu, rasanya aku ingin melewati batas norma- norma itu. Aku ingin bersamamu bagaimanapun caranya. Menjadi diriku, menjadi gila, berdua saja, tanpa batas waktu. Namun sekat itu terlalu kentara. Akulah sang pengecut yang tidak berani keluar dari kotak kotak aturan itu. Hanya berani menyimpanmu pada adegan adegan dikepala.

Mencintaimu adalah sebuah kesalahan dan aku tidak berani untuk tidak menjadi benar.

When Everythings Made Tobe Broken..

Botol bekas air mineral, baju kotor, selimut tidur, baju sablon, sampah bungkus indomie, karung tempat baju, bantal-bantal kotor, dan sendok-sendok bekas makan. Diantara benda-benda itulah aku berada. Terbaring bersama guling yang berbulan-bulan tidak dicuci dengan headset tersumpal ditelinga. And i dont want the world to see me. ‘Cause i dont think that they’re understand. When everythings made tobe broken. Kuteriakkan¬†liriknya keras-keras.¬†I just want you to know who iam!

Kehilangan yang paling menyakitkan.

Dia tidak lagi mengenali sosok yang ada dihadapannya. Sosok yang dipantulkan oleh cermin. Dia tidak mengenali dirinya sendiri. Dirinya yang bertransformasi menjadi makhluk paradoksal. Semuanya terasa tidak pas. Antara usianya, bentuk tubuhnya, pemikirannya dan tindakan yang dia lakukan. Terkadang dia merasa menjadi manusia paling munafik di dunia. Dengan serangkaian kata yang dia lontarkan. Menyerang argumen sekelompok orang. Menghakimi si ini dan si itu. Merasa menjadi manusia paling suci. Tapi dibalik itu semua, diam diam dia menangis. Diterangi redup lampu kamar. Dia, membenci dirinya sendiri. Dia merindukan dirinya yang dulu.

Tempo lalu dia pernah merasa menjadi sebaik baiknya manusia. Lalu diruntuhkan oleh sehebat hebatnya rasa yang dia definisikan sebagai cinta pertama. Saat itu dia tinggalkan sahabat sahabatnya, dia tidak peduli dengan orang tuanya. Dan ketika cinta hanyalah omong kosong yang dikatakan oleh seseorang lalu dihancurkan dengan tiba tiba. Dia sendirian. Dia menangis diterangi redup lampu kamar. Dia, benci dirinya sendiri. Dia ingin kembali menjadi dirinya sebelum mengenal rasa. Menjadi sebaik baik manusia. Menjadi manusia yang menerima, penuh rasa syukur. Apa adanya.

Dia mematut wajahnya didepan cermin. Tidak ada perubahan yang berarti kecuali garis garis halus dibawah mata yang bertambah satu-dua garis. Mengenang ngenang masih menjadi bagian terfavorit dalam hidupnya. Setidaknya dia bisa bertemu dengan dirinya tempo lalu. Yang masih dia cari hingga sekarang. Dia kembali menatap dirinya. Ada jeda sejenak dalam isi kepalanya. Sesaat hening. Memori memori itu memudar, dia siap siap berpisah dengan dirinya tempo lalu. Hidup harus terus berjalan. Dia berkata dalam hati. Tidak ada setetes air matapun yang mampu dia gelontorkan. Namun butiran butirannya tertahan didalam bening matanya. Bertepatan dengan itu dia menyadari. Kehilangan yang paling menyakitkan adalah kehilangan dirinya sendiri.

Ia Tidak

Ia tidak tahu kepada siapa dirinya akan berbicara.

Sampai secangkir kopi,

Malam yang sunyi,

Dan seorang penampung ribuan kata disuguhkan.

Ia tetap tidak.

Ia tidak tahu, kepada siapa dirinya akan berbicara.

Di Pasar, di Kantor, di Rumah, ia bertemu dengan banyak orang.

Barangkali ia akan bicara.

Tetapi ia tetap tidak.

Ia tidak tahu kepada siapa dirinya akan berbicara.

Lalu membiarkan angin membawa suaranya ke langit.

Ia tidak.

Tidak dapat berbicara.

Ia…

Tidak….

SEBENTUK BAYANG BAYANG

Ada saatnya tak kau dengar lagi suara jangkrik
Tidak juga angin berbisik bisik
Malam sempurna terbungkus senyap
Semua lenyap

Senja memburu detak jantungmu
Waktu menjarah sisa hidupmu
Relakan kau menjadi abu
Serupa debu

Kepada siapa akan kau tanya jejak perginya matahari
Atau dimana sinar bulan bersembunyi
Saat pintu pintu terkunci
Jawaban tak ada lagi

Kendati separuh dirimu tak ingin melebur
Bersatu padu menjelma lumpur
Bisa apa kau tanpa jiwa
Tanpa apa, kau hanya nama

Jangan siakan detik begini
Nikmati pelan pelan sisa udara pagi
Sampai kunyanyikan bait bait elegi
Dihari esok jasadmu tak ada lagi

Akan ada aku diantara ilalang
Mengantar ragamu pulang
Meski tubuhmu hilang
Ku tahu kau ada
Sebentuk bayang bayang

Retno Ayu Santoso