When Everythings Made Tobe Broken..

Botol bekas air mineral, baju kotor, selimut tidur, baju sablon, sampah bungkus indomie, karung tempat baju, bantal-bantal kotor, dan sendok-sendok bekas makan. Diantara benda-benda itulah aku berada. Terbaring bersama guling yang berbulan-bulan tidak dicuci dengan headset tersumpal ditelinga. And i dont want the world to see me. ‘Cause i dont think that they’re understand. When everythings made tobe broken. Kuteriakkan¬†liriknya keras-keras.¬†I just want you to know who iam!

Iklan

Kehilangan yang paling menyakitkan.

Dia tidak lagi mengenali sosok yang ada dihadapannya. Sosok yang dipantulkan oleh cermin. Dia tidak mengenali dirinya sendiri. Dirinya yang bertransformasi menjadi makhluk paradoksal. Semuanya terasa tidak pas. Antara usianya, bentuk tubuhnya, pemikirannya dan tindakan yang dia lakukan. Terkadang dia merasa menjadi manusia paling munafik di dunia. Dengan serangkaian kata yang dia lontarkan. Menyerang argumen sekelompok orang. Menghakimi si ini dan si itu. Merasa menjadi manusia paling suci. Tapi dibalik itu semua, diam diam dia menangis. Diterangi redup lampu kamar. Dia, membenci dirinya sendiri. Dia merindukan dirinya yang dulu.

Tempo lalu dia pernah merasa menjadi sebaik baiknya manusia. Lalu diruntuhkan oleh sehebat hebatnya rasa yang dia definisikan sebagai cinta pertama. Saat itu dia tinggalkan sahabat sahabatnya, dia tidak peduli dengan orang tuanya. Dan ketika cinta hanyalah omong kosong yang dikatakan oleh seseorang lalu dihancurkan dengan tiba tiba. Dia sendirian. Dia menangis diterangi redup lampu kamar. Dia, benci dirinya sendiri. Dia ingin kembali menjadi dirinya sebelum mengenal rasa. Menjadi sebaik baik manusia. Menjadi manusia yang menerima, penuh rasa syukur. Apa adanya.

Dia mematut wajahnya didepan cermin. Tidak ada perubahan yang berarti kecuali garis garis halus dibawah mata yang bertambah satu-dua garis. Mengenang ngenang masih menjadi bagian terfavorit dalam hidupnya. Setidaknya dia bisa bertemu dengan dirinya tempo lalu. Yang masih dia cari hingga sekarang. Dia kembali menatap dirinya. Ada jeda sejenak dalam isi kepalanya. Sesaat hening. Memori memori itu memudar, dia siap siap berpisah dengan dirinya tempo lalu. Hidup harus terus berjalan. Dia berkata dalam hati. Tidak ada setetes air matapun yang mampu dia gelontorkan. Namun butiran butirannya tertahan didalam bening matanya. Bertepatan dengan itu dia menyadari. Kehilangan yang paling menyakitkan adalah kehilangan dirinya sendiri.

Ia Tidak

Ia tidak tahu kepada siapa dirinya akan berbicara.

Sampai secangkir kopi,

Malam yang sunyi,

Dan seorang penampung ribuan kata disuguhkan.

Ia tetap tidak.

Ia tidak tahu, kepada siapa dirinya akan berbicara.

Di Pasar, di Kantor, di Rumah, ia bertemu dengan banyak orang.

Barangkali ia akan bicara.

Tetapi ia tetap tidak.

Ia tidak tahu kepada siapa dirinya akan berbicara.

Lalu membiarkan angin membawa suaranya ke langit.

Ia tidak.

Tidak dapat berbicara.

Ia…

Tidak….

SEBENTUK BAYANG BAYANG

Ada saatnya tak kau dengar lagi suara jangkrik
Tidak juga angin berbisik bisik
Malam sempurna terbungkus senyap
Semua lenyap

Senja memburu detak jantungmu
Waktu menjarah sisa hidupmu
Relakan kau menjadi abu
Serupa debu

Kepada siapa akan kau tanya jejak perginya matahari
Atau dimana sinar bulan bersembunyi
Saat pintu pintu terkunci
Jawaban tak ada lagi

Kendati separuh dirimu tak ingin melebur
Bersatu padu menjelma lumpur
Bisa apa kau tanpa jiwa
Tanpa apa, kau hanya nama

Jangan siakan detik begini
Nikmati pelan pelan sisa udara pagi
Sampai kunyanyikan bait bait elegi
Dihari esok jasadmu tak ada lagi

Akan ada aku diantara ilalang
Mengantar ragamu pulang
Meski tubuhmu hilang
Ku tahu kau ada
Sebentuk bayang bayang

Retno Ayu Santoso

Dalam perjalanan menuju pulang

Aku tenggelam dalam alunan musik creep-radiohead dengan headset tersumpal ditelinga, dan tas ransel kecil dipangkuan. Antisosial, weird, begitulah orang lain memandangku, mungkin. Entahlah.
Yang pasti aku nyaman menjelma debu, angin, lampu temaram atau apapun yang tidak terlalu kelihatan.

Kurapalkan liriknya dalam hati. But i’m a creep, i’m a weirdo, what the hell iam doing here? i dont belong here~ well i dont belong anywhere i think. Sambil mengunyah snack sponge ku dalam perjalanan menuju pulang.

Petrichor

Hujan pernah menangkap basah kita berdua
Ketika matamu membisikan bahwa teduh itu ada
Aku yang tenggelam dalam samudra coklatmu
tidur panjang diiringi riak hujan dan aroma tanah basah
Jangan bangunkan aku, wahai waktu
Aku masih ingin disitu

Sebuah hampa yang tak seharusnya bernama sepi

Apa aku perlu bicara?

Jika bahasaku tidak dimengerti.

Ramai hanya ingin mendengar yang biasanya didengar.

Bukan apa yang semestinya didengar.

Mereka menjelma hingar bingar.

Serupa pesta dengan musik musik keras sepanjang malam.

Lalu aku?

tetap menjadi aku

Sunyi yang keindahannya tersamar bersama angin yang bertiup.

Lalu menghilang.

Mewujud hampa.

Yang tak seharusnya bernama sepi.